LAPORAN 1 PRAKTIUM KIMIA ORGANIK I : ANALISA KUALITATIF UNSUR-UNSUR ZAT ORGANIK DAN PENENTUAN KELAS KELARUTAN
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
ANALISA KUALITATIF UNSUR-UNSUR ZAT ORGANIK DAN
PENENTUAN KELAS KELARUTAN

DISUSUN OLEH :
NAMA : RYAN
WILLIANTO
NIM :
A1C118019
KELAS :
REGULER A 2018
DOSEN PENGAMPU :
Dr.
Drs. SYAMSURIZAL, M.Si
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN KIMIA
PENDIDIKAN
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS
JAMBI
20119/2020
VIII. TUJUAN
PENGAMATAN
1. Agar mengetahui prinsip dasar dalam analisa
kualitatif dalam kimia organik.
2. Agar mengetahui tahapan kerja analisa yang
dimulai dengan unsur karbon, hidrogen, belerang, nitrogen, halogen dalam suatu
senyawa organik dan penentuan kelas kelarutan nya.
3. agar dapat mencoba beberapa senyawa unknown
untuk dianalisa.
IX. MANFAAT
1. Dapat mengetahui kelarutan masing-masing
kelarutan suatu unsur organik dalam beberapa pelarut
2. Dapat mengetahui cara menganalisis suatu
senyawa organik dalam laboratorium
3. Dapat mencari tahu senyawa yang tidak
diketahui dalam suatu senyawa organik
X. PROSEDUR KERJA
Prosedur kerja dapat dilihat di
sini : https://ryanwngedu.blogspot.com/2020/01/praktikum-kimia-organik-i.html
XI. DATA PENGAMATAN
11.1. Analisis Unsur
11.1.1. Karbon dan
Hidrogen
PERLAKUAN
|
HASIL
|
1 gram CuO kering dipanaskan
|
Tampak kering dan tidak terjadi
suatu perubahan apapun
|
Ditambahkan gula
|
CuO bercampur dengan gula dan
meleleh
|
Dialirkan pipa (CaCOH)2)
lalu dipanaskan
|
Timbul uap dan gas
|
11.1.2. Halogen
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Tes Beilstein.
Dipanaskan kawat tembaga sampai
kemerah merahan lalu didinginkan dan di tetesi CCl4, dipijarkan
lalu diamati warna nyala
|
Menghasilkan warna nyala berwarna
oren.
|
Tes CaO.
Dipanaskan CaO dalam tabung besar,
ditetesi CCl4 dan didihkan dengan air suling + HNO3 encer
|
· Timbul bau dan
gelembung disekitaran kulit telur
·
Warna larutan menjadi jernih
|
Nb : CCl4 diganti dengan
menggunakan n-heksana karena CCl4 tidak ada dilaboratorium
11.1.3.Metode leburan dengan natrium
a. Belerang
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Larutan L (putih telur)
ditambahkan dengan asam pekat HCl (diasamkan) lalu didihkan, diperiksa gas
melalui kertas saring yang dibasahi dengan Pb asetat 10% + larutan
nitroprosside
|
·
Timbul bau sulfur (kentut)
·
Ada keluar gas berwarna putih
|
Nb : pada
prosedur menggunakan asam asetat diubah menggunakan asam klorida (asam kuat)
b. Nitrogen
PERLAKUAN
|
HASIL
|
3 ml larutan L + 3 tetes larutan
FeSO4
Ditambahkan 1 tetes FeCl2
Ditambahkan 5 tetes KF 10%
Ditambahkan 1-2 ml NaOH 10%
dididihkan
Asamkan dengan asam sulfat encer
|
·
Larutan tampak berwarna hitam menjadi kuning bening
·
Pada bagian dasar tabung reaksi terdapat endapan biru berlin (mendekati)
|
nb : larutan
dipakai adalah ninhidryn
c. Halogen
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Larutan L (putih telur + HCl)
diasamkan dengan HNO3 encer, didihkan untuk menghilangkan HCN atau
H2S + AgNO3 encer lalu dididihkan lagi
|
Tampak didasar tabung reaksi
endapan warna hitam kecoklatan
|
11.2. Penentuan
kelas kelarutan
11.2.1. Kelarutan dalam
air
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Dimasukkan
0,1 gram gula + 3ml air suling, kocok kuat kuat
|
Larutan jernih (+), larut
|
0,1
gram garam + 3ml air suling, kocok kuat kuat
|
Larutan jernih (+), larut
|
0,1
gram minyak + 3ml air suling, kocok kuat kuat
|
Larutan keruh (-)
|
0,1
gram tepung + 3ml air suling, kocok kuat kuat
|
Larutan keruh(-)
|
11.2.2. Kelarutan dalam
Eter
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Dimasukkan
0,1 gram gula + 3ml eter
|
Jernih (+)
|
0,1
gram garam + 3ml eter, kocok kuat kuat
|
Jernih (+)
|
0,1
gram minyak + 3ml eter, kocok kuat kuat
|
Jernih (+)
|
0,1
gram tepung + 3ml eter , kocok kuat kuat
|
Keruh (-)
|
11.2.3. Kelarutan dalam NaOH 5%
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Dimasukkan
0,1 gram gula + 3ml NaOH 5%
|
Jernih (+)
|
0,1
gram garam + 3ml NaOH 5%, kocok kuat kuat
|
Jernih (+)
|
0,1
gram minyak + 3ml NaOH 5%, kocok kuat
|
Keruh (-)
|
0,1
gram tepung + 3ml NaOH 5%, kocok kuat
|
Keruh (-)
|
11.2.4. Kelarutan dalam
HCl
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Dimasukkan
0,1 gram gula + 5ml HCl 5%
|
Larutan jernih (+), terasa hangat
|
0,1
gram garam + 3ml HCl 5%, kocok kuat kuat
|
Larutan jernih (+)
|
0,1
gram minyak + 3ml HCl 5%, kocok kuat
|
Jernih (+)
|
0,1
gram tepung + 3ml HCl 5%, kocok kuat
|
Jernih (+)
|
11.2.5. Kelarutan dalam
NaHCO3 5%
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Dimasukkan
0,1 gram gula + 3ml NaHCO3 5%
|
Timbul gas CO2 (+)
|
0,1
gram garam + 3ml NaHCO3 5%, kocok kuat
|
Tidak Timbul gas CO2
(-)
|
0,1
gram minyak + 3ml NaHCO3 5%, kocok kuat
|
Tidak Timbul gas CO2
(-)
|
0,1
gram tepung + 3ml NaHCO35%, kocok kuat
|
Tidak Timbul gas CO2
(-)
|
11.2.6. Kelarutan dalam
H2SO4 pekat
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Dimasukkan
0,1 gram gula + 3ml H2SO4 pekat kocok
|
Larutan jernih (+) tidak berwarna
|
0,1
gram garam + 3ml, H2SO4 pekat kocok kuat
|
Larutan jernih (+) tidak berwarna
|
0,1
gram minyak + 3ml, H2SO4 pekat kocok kuat
|
Larutan jernih (+) berwarna oren
|
0,1
gram tepung + 3ml, H2SO4 pekat kocok kuat
|
Larutan jernih (+) berwarna oren
|
11.2.7. Kelarutan H3PO4 pekat
PERLAKUAN
|
HASIL
|
Dimasukkan
0,1 gram gula + 3ml H3PO4 pekat
|
Larutan jernih (+)
|
0,1
gram garam + 3ml H3PO4 pekat kocok kuat
|
Larutan jernih (+)
|
0,1
gram minyak + 3ml H3PO4 pekat kocok kuat
|
Larutan jernih (+)
|
0,1
gram tepung + 3ml H3PO4 pekat kocok kuat
|
Larutan jernih (+)
Dan terdapat endapan
|
XII. PEMBAHASAN
Dalam skala
kecil, proses analisis molekul organik dapat dilakukan di ruang laboratorium
dimana dilakukan identifikasi untuk mengetahui kandungan unsur dalam suatu
senyawa organik. Perbedaan kelaruan suatu senyawa organik terlarut dalam suatu
pelarut dapat menentukan hasil berikutnya dalam suatu percobaan (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/22/analisis-kualitatif-senyawa-organik/).
Pada praktikum
pertama Kimia Organik I ini, kami melakukan total 12 percobaan dengan alat dan
bahan yang telah dipersiapkan. Akan tetapi ada beberapa bahan yang diganti
dalam praktikum karena keterbatasan bahan. Seperti CCl4 yang diganti
dengan n-heksana (n-heksane). Berikut ini hasil dan pembahasan dari praktikum
yang saya dan teman sekelompok lakukan :
1. Analisa
Unsur
a. Karbon
dan Hidrogen
Pada praktikum
ini, praktikan mengidentifikasi keberadaan unsur Karbon (C) dan Hidrogen (H)
dalam gula pasir (C6H12O6). Praktikan mempersiapkan
logan CuO yang dikeringkan dengan pemanasan di atas cawan porselen kemudian
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Setelah itu, masukkan juga gula pasir ke
tabung reaksi pertama kemudian bentuklah tabung reaksi dengan memberikan selang
pengalir gas dan tidak di beri sela di mulut tabung reaksi. Penggunaan logam CuO
pada glukosa adalah sebagai katalis agar struktur glukosa pada gula pasir mudah
terputus selain mengubah suhu sistem. Pada tabung reaksi ke 2 di beri larutan Ca(OH)2
lalu sambungkan tabung reaksi pertama dengan ke dua dengan menggunakan selang
pengalir gas. Saat tabung reaksi pertama di panaskan, terjadilah penguraian glukosa sehingga timbul
endapan putih pada tabung reaksi ke dua dan uap air. Endapan pada dasar tabung
menunjukkan bahwa ada yang bereaksi yang diharapkan senyawa CaCO3,
hal ini menunjukkan senyawa gula mengansung unsur karbon. Selain itu,
dihasilkan pula uap air yang mengembuh di atas permukaan air (larutan) yang
menunjukkan bahwa proses pemutusan ikatan gula menghasilkan uap air juga yang
menunjukkan bahwa glukosa juga mengandung unsur hidrogen (H). Berikut ini adalah
reaksi lengkap nya :
Ca(OH)2(l)
+ CO2(g) + H2O(g)
-> CaCO3(s) + H2O(l)
+ H2O(g)
b. Halogen
Pada uji halogen
dilakukan 2 cara, yaitu tes Beilstein dan tes CaO.
Tes Beilstein
Tes beilstein dilakukan cukup sederhana, yaitu hanya
dengan membakar suatu senyawa yang mengandung
halogen dengan media kawat tembaga (kawat nikrom). Hal penting yang dilakukan
praktikan sebelum membakar senyawa yang mengandung halogen adalah sterilisasi
kawat tembaga. Sterilisasi kawat tembaga dapat dilakukan dengan membakar kawat
langsung di api biru, maupun dengan mencelupkan kawat ke larutan asam kuat (dalam
hal ini HCl atau asam klorida). Sterilisasi dilakukan agar pengamatan terhadap
praktikum lebih akurat dengan menghilangkan pengotor pada kawat tembaga. Setelah
steril, kawat dicelupkan ke larutan n-heksana lalu di bakar dengan api biru. Penggunaan
api biru dimaksudkan dapat memberikan energi yang lebih besar untuk megeksitasi
elektron dan menimbulkan warna nyala pada api, karena api biru memiliki energi
yang lebih besar dibandingkan api merah. Jika energi yang diberikan kurang
besar, maka elektron tidak mudah teresksitasi dan warna nyala tidak timbul. Setelah
itu, tibul warna oren atau jingga ketika di bakar yang menunjukkan senyawa
tersebut mengandung halogen.
Tes CaO
Pada tes CaO praktikan menggunakan cangkang telur
karena masih mengandung senyawa tersebut. Penggunaan cangkang telur dikarenakan
keterbatasan bahan. Cangkang telur dipanaskan dalam gelas kimia dan
menimbulkan bau tak sedap. Pemanasan CaO
bertujuan untuk menghilangkan unsur yang dapat mengganggu kinerja reaksi
seperti H2S dan lainnya. Setelah itu, di berikan larutan n-heksana
dan teteskan aquades sebanyak 5-10 tetes bersamaan larutan HNO3
encer ke dalamnya. Hasilnya setelah dipanaskan adalah timbul gelembung yag
cukup besar berbeda dengan air mendidih dan warna air yang jernih. Gelembung yang
timbul menunjukkan adanya halogen pada senyawa n-heksana. Penggunaan CaO pada
uji ini dapat pula berperan sebagai katalis untuk mengurai senyawa dan cara
mengidentifikasinya adalah dengan memerhatikan gelembung gas yang timbul akibat
penguraian molekul.
c. Metode
Leburan dengan Natrium
·
Belerang
Praktikum dilakukan
dengan memanfaatkan putih telur sebagai larutan L yang memiliki kandungan unsur
tersebut. Dalam tabung reaksi, putih telur di tetesi oleh asam pekat (dalam hal
ini HCl) kemudian dilakukan pemanasan setelah mulut tabung reaksi ditutup oleh kerta
saring yang telag dibasai oleh larutan Pb-asetat agar gas yang timbul tidak
keluar dengan bebas. Selama pemanasan, ternyata timbul gas yang ketika di baui
ternyata terdapat bau tak sedap (H2S). Hal tersebut menunukkan bahwa
dalam putih telur terdapat unsur belerang (S)
·
Nitrogen
Praktikum ini
dilakukan dengan memanfaatkan putih telur juga. Putih telur diambil dalam
tabung reaksi dan ditetesi nihidrin. Penggunaan ninhidrin dimaksudkan untuk
mendeteksi asam amino dalam protein putih telur, karena penyusun utama asam
amino mengandung unsur nitrogen (N). Ditetesi 5 tetes FeSO4, kemudian 1 tetes
FeCl3 dan ditambahkan 5 tetes larutan KF 10%. Selanjutnya di tambahkan larutan
NaOH 10% sebanyak 1-2 mL, ternyata memberikan warna biru gelap. Tabung reaksi
dipanaskan dengan waktu yang cukup lalu di tetesi larutan H2SO4 agar larutan
menjadi bening dan diharapkan menemukan endapan biru berlin. Setelah penambahan
H2SO4, didapatlah endapan biru berlin di dasar tabung reaksi. Endapan biru
berlin yang timbul menunjukkan bahwa pada putih telur mengandung unsur nitrogen
(N)
·
Halogen
Pada praktikum
ini, digunakan putih telur dalam gelas kimia. Tetesi larutan HCl dan HNO3
kemudian didihkan di atas Bunsen. Pemanasan ini bertujuan untuk menghilangkan
gas yang dapat menggangagu kerja reaksi nantinya, seperti HCN dan H2S.
kemudian di tambah AgNO3 selama proses pemanasan. Dihasilkan endapan
berwarna coklat kehitaman setelah didinginkan. Endapan tersebut menunjukkan
adanya unsur halogen.
2. PENENTUAN
KELAS KELARUTAN
a. Kelarutan
dalam Air
Percobaan ini melakukan uji terhadap 4 bahan, yaitu gula (C12H22O11),
garam (NaCl), Minyak Goreng, dan tepung.
ü
Dilakukan
perlakuan terhadap gula (glukosa) sebanyak 0,1 gram. Kemudian dimasukkan ke
dalam 3 mL air suling dan dikocok. Dihasilkan laritan yang jernih yang
menunjukkan bahwa gula dapat larut dalam air.
ü
Diambil
sebagian garam dan dilarutkan dalam air. Terlihat air jernih yang menunjukkan
garam larut dalam air.
ü
Di
berikan air dan minyak dalam gelas kimia. Terlihat air dan minyak tidak dapat
menyatu. Hal ini disebabkan perbedaan kepolaran antara minyak dan air dimana
air bersifat polar dan minyak nonpolar. Hal ini menunjukkan bahwa minyak tidak
dapat larut dalam air. Selain itu, terlihat bahwa minyak berada di atas air,
hal tersebut karena perbedaan densitas suatu zat. Densitas minnyak lebih kecil
dari pada air, densitas pula dapat menunjukkan kerapatan suatu zat, semakin
rapat suatu zat maka semakin besar pula densitasnya.
ü
Diambil
tepung dan dilarutkan dalam air suling. Dihasilkan warna keruh putih yang menunjukkan
bahwa tepung tidak dapat larut sepenuhnya dalam air. Hal ini disebabkan karena
adanya gluten dalam tepung.
b. Kelarutan dalam Eter
XIII. PERTANYAAN
PASCA PRAKTIK
Setelah saya
melakukan percobaan di laboratorium, saya mendapatkan masalah dalam percobaan,
sebagai berikut :
1. Pada uji belerang, praktikan menggunakan putih
telur dan ninhidryn untuk menguji keberadaan belerang. Pada putih telur
praktikan mendapat bau H2S, pada ninhidyn praktikan tidak mendapat
bau H2S. mengapa pada ninhidrin praktikan tidak mendapat bau H2S?
2. Pada uji belerang, putih telur diberikan HCl
pekat sebanyak 5-10 tetes, setelahnya di panaskan. Apa tujuan dilakukan nya
pemanasan tersebut? Jelaskan!
3. Pada uji halogen,
dilakukan pemberian larutan asam pekat (HCl) pada cangkang telur. Apa fungsi
pemberian asam kuat pada cangkang telur? Dan apa yang terjadi pada struktur
cangkang telur?
UJI BELERANG MENGGUNAKAN Pb-Asetat 10%
MACAM-MACAM HASIL TES BAHAN
HASIL UJI NITROGEN
UJI HALOGEN (PEMANASAN KAWAT TEMBAGA)
UJI CaO PADA CANGKANG TELUR (HALOGEN)
XVI. DAFTAR PUSTAKA
(http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/22/analisis-kualitatif-senyawa-organik/)
diakses pada tanggal 24 Januari 2020.
Rezki, Radhia dkk. 2019. Teknologi
Sediaan Farmasi. Yogyakarta : Deepublish.
Subandi, Ir. 2010. Kimia Organik. Yogyakarta : Deepublish.
Tim Penuntun Kimia Organik I. 2020. Penuntun Kimia Organik I. Jambi : Universitas Jambi.
Yashito, Takeuchi. 2006. Buku Teks Pengantar Kimia. Iwanami Shouten : Tokyo





assalammualaikum wr.wb
BalasHapusselamat malam
perkenalkan saya indah syafitri (A1C118018) saya akan membantu menjawa pertanyaan no 1. karena pada ninhidrin tidak mengandung asam amino berupa metionin atau pun sistein . melainkan mengandung asam amino prolina yang sama sekali tidak mengandung unsur S didalamnya.unsur S dalam metinion atau sistein inilah yang menyebabkan timbulnya bau H2S
Baik, perkenalkan nama saya Trixie Fedora Ima Gulo dengan nim A1C118077. Membantu menjawab pertanyaan nomor 2. Tujuan dilakukannya suatu pemanasan terhadap larutan yg telah diasamkan dengan asam pekat kemudian dipanaskan adalah agar panas tetap berlangsung dan membantu menaikkan gas larutan semenjak diteteskannya suatu asam (eksoterm) dan menimbulkan gumpalan uap panas yang akan terperangkap diatas kertas saring yang telah ditetesi oleh Pb-Asetat 10% . Semoga membantu. Terima kasih :)
BalasHapusasslamu'alaikum hay ryan
BalasHapussaya DARA KUMALASARI
NIM : A1C118038
akan membantu menjawab pertanyaan no 3,,
pada uji halogen yang digunakan adalah putih telur ditambah HCL agar lebih cepat bereaksi ketika praktikan akan mengasamkan larutan dengan HNO3 encer, saat diberi HCL maka protein pada putih telur akan larut dan terjadi penggumpalan . ini lah yang akan bereaksi dengan HNO3 encer yang kemudian berubah warna menjadi kuning menimbulkan bau serta gas yang banyak. yang mana didalam protein tersebut terkandung sumber asam amino , H, N, C, O.
terimakasih ,,
dan selamat malam