LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 2
KALIBRASI TERMOMETER DAN PENENTUAN TITIK LELEH
DISUSUN OLEH :
NAMA :
RYAN WILLIANTO
NIM :
A1C118019
KELAS :
REGULER A 2018
DOSEN PENGAMPU :
Dr.
SYAMSURIZAL, M.Si
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN KIMIA
PENDIDIKAN
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS
JAMBI
20119/2020
VIII. TUJUAN
PENGAMATAN
Tujuan
dilaksanakannya praktikum ini adalah :
1. Mengetahui batas atas dan batas bawah
termometer alkohol.
2. Mengetahui titik leleh tiap zat padat
3. Mengetahui penggunaan alat MPA (malting point aparatus)
IX. PROSEDUR KERJA
Prosedur kerja dapat
dilihat di sini : https://ryanwngedu.blogspot.com/2020/02/jurnal-2-kalibrasi-termometer-dan.html
X. DATA PENGAMATAN
A. KALIBRASI TERMOMETER
NO.
|
PERLAKUAN
|
HASIL
PENGAMATAN
|
1.
|
Bubuk
+ Air (250 mL) 2/5 bagian volume
|
Mencair
dan tercampur dengan air
|
2.
|
Dimasukan
termometer dan disumbat dibagian mulut labu
|
Suhu
00C
|
3.
|
Diulang
percobaan
|
Batas
suhu didapatkan 00C
|
4.
|
2/5
bagian erlenmeyer diisi air
|
|
5.
|
Dimasukkan
termometer 1 cm diatas permukaan
|
Suhu
Awal didpatkan 230C
|
6.
|
Dipanaskan
|
Suhu
berubah menjadi 1000C
|
B. PENENTUAN TITIK LELEH
NO
|
CAMPURAN
2 SENYAWA
|
Senyawa
Murni
|
1
: 1
|
1
: 3
|
3
: 1
|
|||||||||||
T1
|
T2
|
T1
|
T2
|
T1
|
T2
|
T1
|
T2
|
|||||||||
1.
|
Naftalen
|
780C
|
840C
|
|||||||||||||
Naftalen + Glukosa
|
1000C
|
1480C
|
1480C
|
1550C
|
1300C
|
1460C
|
||||||||||
2.
|
Glukosa
|
1200C
|
1400C
|
|||||||||||||
Glukosa +
β – Naftol
|
1300C
|
1400C
|
1460C
|
1500C
|
1380C
|
1490C
|
||||||||||
3.
|
β – Naftol
|
1050C
|
1150C
|
|||||||||||||
β – Naftol + Asam Benzoat
|
880C
|
920C
|
900C
|
1030C
|
850C
|
1200C
|
||||||||||
4.
|
Asam Benzoat
|
980C
|
1400C
|
|||||||||||||
Asam Benzoat + Maltosa
|
1100C
|
1200C
|
1000C
|
1550C
|
970C
|
1350C
|
||||||||||
5.
|
Maltosa
|
1050C
|
1070C
|
|||||||||||||
Maltosa + Naftalen
|
1200C
|
1220C
|
1100C
|
1140C
|
1130C
|
1150C
|
||||||||||
C. DEMONSTRASI TITIK LELEH DENGAN
MPA (Melting Point Apparatus)
NO
|
NAMA
SENYAWA
|
T1
|
T2
|
1.
|
Naftalen
|
850C
|
1000C
|
2.
|
Glukosa
|
160,720C
|
1800C
|
3.
|
β – Naftol
|
900C
|
1020C
|
4.
|
Asam Benzoat
|
1150C
|
1200C
|
5.
|
Maltosa
|
900C
|
1020C
|
Nb :
·
T1 : Suhu Tepat Meleleh
·
T2 : Suhu Meleleh Seluruhnya
·
Bagian B dilakukan secara manual
·
Bagian C dilakukan dengan menggunakan
alat Melting Point Apparatus (MPA)
XI. PEMBAHASAN
Pada
praktikum ini dilakukan percobaan kalibrasi termometer dan penentuan titik
leleh beberapa zat padat
A. KALIBRASI
TERMOMETER
Percobaan
pertama dilakukan dengan pengkalibrasian termometer. Terometer yang praktikan
gunakan untuk percobaan ini adalah termometer alkohol. Hal ini dapat diketahui
karena warna isi termometer yang berwarna merah. Pengalibrasian termometer
sangatlah penting karena dibutuhkan untuk mengetahui apakah alat tersebut dapat
digunakan dengan benar atau tidak.
Tahap
awal pada percobaan ini adalah menggunakan termometer ke dalam air es. Es dan air dicampurkan dan rendam termometer dengan
bagian bawah termoeter tidak menyentuh dasar Erlenmeyer. Kemudian dilakukan percobaan
ke-2 dengan air mendidih. Termometer dimasukkan ke dalam Erlenmeyer yang dipanaskan
dalam keadaan termometer berada 1 cm diatas permukaan air. Hal ini bertujuan mendeteksi
sensitivitas termometer dengan posisi mengambang di atas permukaan air.
Kesimpulan
dari dilakukannya kalibrasi termometer ini adalah memastikan apakah termometer
dapat bekerja dengan baik dalam suhu rendah maupun tinggi. Hasil yang didapat
oleh praktikan
B. PENENTUAN
TITIK LELEH
Pada
penentuan titik leleh ini, dilakukan dengan membandingkan berbagai macam
senyawa naftalen, glukosa, β–Naftol (pengganti α-naftol), Asam Benzoat, dan
Maltosa. Dengan menggunakan senyawa yang berbeda diharapkan kita dapat berpikir
kritis perbedaan diantara senyawa-senyawa tersebut. Berdasarkan literatur bahwa
naftalen memiliki titik leleh pada suhu 2180C, titik leleh glukosa
pada suhu 1460C, titik leleh β – Naftol 120-1220C, Asam
Benzoat pada suhu 122, 30C, dan Maltosa titik lelehnya pada suhu 1020C.
Pada
pengujian titik leleh Naftalen dengan manual menggunakan pemanasnya Minyak
didapatkan suhu tepat meleleh sebesar 780C dan suhu meleleh
seluruhnya 840C, berbanding terbalik dengan literatur yang
mengatakan bahwa dapat meleleh dengan kondisi suhu 1460C, namun
tidak menutup kemungkinan bahwa karena sifat yang dimiliki oleh Naftalen itu
sendiri mudah menguap ataupun terbakar dalam kondisi apapun. Sedangkan dengan
yang lainnya mendapatkan nilai yang normal dan tidak jauh berbeda dari suhu
literatur. Berbagai faktor dapat terjadi semata bukan karena satu sifat, namun
ada berbagai macam pertimbangan kejadian titik leleh itu dapat terjadi.
Pada
pengujian β-Naftol dengan menggunakan minyak, didapatkan suhu tepat meleleh
berniai 120oC dan senilai 140oC untuk zat yang meleleh
seluruhya
XII. PERTANYAAN
PASCA PRAKTIKUM
Setelah
melaksanakan praktikum, didapatkan masalah sebagai berikut :
1. Dalam melakukan penentuan titik leleh,
digunakan minyak sebagai media pengantar panas agar zat padat meleleh. Mohon
saudara/i jelaskan apa fungsi penggunakan minyak pada uji titik leleh dan
alasan penggunaan minyak tersebut?
2. Pada penentuan titik leleh, digunakan
cara manual (dengan termometer) dan menggunakan MPA (Malting Point Aparatus).
Antara termometer dan MPA didapatkan nilai yang berbeda walau dengan selisih
yang sedikit. Mengapa didapatkan nilai suhu yang berbeda antara menggunakan MPA
dan termometer?
3. Pada
percobaan kalibrasi termometer, dilakukan penyumbatan pada labu Erlenmeyer. Apa
tujuan dilakukan nya penyumbatan tersebut, bagaimana kalau penyumbatan tersebut
tidak dilakukan?
XIII. KESIMPULAN
XIV. LAMPIRAN GAMBAR
GLUKOSA
KAKI TIGA
PENGAMBILAN ES BATU
PIPA KAPILER
GELAS KIMIA
XV. DAFTAR PUSTAKA
Gabriel, J F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta : EGC.
Moran dan Shapiro. 2002. Termodinamika Teknik. Jakarta : Erlangga.
Tim Penuntun Kimia Organik 1. 2020. Kimia Organik 1. Jambi : Universitas
Jambi.
Oxtoby,
dkk. 2001. Kimia Modern. Jakarta :
Erlangga.






Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
BalasHapusPerkenalkan nama saya Adriyan Wijaya putra
Saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor tiga
Menurut saya alasan kita menutup labu erlenmeyer adalah agar sistem terisolasi dan ini membuat uap air tetap di dalam labu dan ini membuat air dapat mencapai suhu maksimal yang di inginkan. Apabila tidak di tutup makan sistem akan mudah di pengaruhi oleh lingkungan sehingga hasil nya tidak maksimal atau dapat terjadi nya kesalahan. Sekian terima kasih semoga bermanfaat
Assalamualaikum wr. Wb.
BalasHapusHallo rian, saya dwi kartini nim(058) akan mencoba menjawab pertanyaan rian nmer 2 . Penentuan titik leleh yang dilakukan secara manual dan mpa akan menunjukan hasil yang berbeda. Karena pada pengukuran manual besar kemungkinan hasil yang ditujukan kurang akurat karena adanya faktor eksternal dan juga kurang telitinya praktikan. Berbeda dengan MPA yang telah di standarisasi keakuratannya. Terimakasihh
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmalam, saya siti asmiyah nim a1c118094 saya akan menjawab no. 1, jaddi minyak digunakan untuk menetukan titik lelehnya suatu zat yang sedang dipraktikumkan dan alasan menggunakan minyak karena minyak tidak mudah menguap. sekian terimakasih, semoga dapat membantu.
BalasHapus