PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I
JURNAL
8
DISUSUN
OLEH :
NAMA : RYAN WILLIANTO
NIM : A1C118019
KELAS : REGULER A 2018
DOSEN PENGAMPU : Dr. Syamsurizal, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
I. Judul : Kromatografi
Lapis Tipis dan Kolom
II. Hari,
Tanggal : Rabu, 29 April 2020
III. Tujuan :
Pada akhir
percbaan ini, mahasiswa harus dapat memahami dan terampil dalam :
a. Dapat mengetahui teknik dasar
kromatografi lapis tipis dan kolom.
b. Agar dapat membuat pelat kromatografi
lapis tipis dan kolom kromatografi.
c. Agar dapat memisahkan suatu senyawa dari
campurannya dengan kromatografi lapis tipis dan memurnikannya dengan kolom.
d. Agar dapat memilisahkan pigmen tumbuhan
dengan cara kromatografi kolom.
IV. Landasan
Teori
Menurut
tim penuntuk praktikum kimia organik (2020 : 36)Pembuaan sikloheksanon dapat
dilakkan dengan cara mengoksidasi senyawa alkohol siklik. Senyawa alkohol siklik
memiliki possisi gugus sekunder pada rantai, sehingga dapat menghasilkan
senyawa keton siklik atau siklo alkanon.
C6H11
– OH à C6H11=O + H2O
Sikloheksanol sikloheksanon
Mekanisme
reaksi nya :
Cr2O72- + 14 H+ + 3 e- à 2 Cr3+ + 7H2O
-
CH – OH à C=O
+ 2 e-
Sebagai
sebuah senyawa, alkohol terutama etanol tidak banyak berfungsi ssebagai
pelarut, melainkan sebagai bahan pembuatan warna, bahan peledak, kosmetik, dan
obat sintesis. Etanol juga terdapat dalam beberapa minuman beralkohol dan
etanol ini cukup aman untuk dikonsumsi dari pada beberapa alkohol jenis llain
(paling sedikit beracun) (chang, 2003 : 350).
Salah
satu ciri khas dari senyawa alkohol dan fenol ini adalah adanya gugus –OH pada
salah satu atom C dalam rantai karbon. Berdasarkan letak gugus –OH nya, senyawa
ini dapat dibagi menjadi tiga kelas, yaitu alkohol primer, sekunder, dan
tersier (petrucci. 1985 : 268).
V. Alat
dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang akan digunakan dalam
praktikum ini, yaitu :
5.1. Alat
a. labu Erlenmeyer 250 mL
b. Pemanas bunsen
c. Kaki tiga, kawat kasa
d. Gelas kimia
e. Corong buncher
f. Cawan penguap
5.2. Bahan
a. etanol
b. 2-propanol
c. sekunder butil alkohol
d. siklo heksanol
e. fenol
f. kolesterol
g. 2-naftol
h. indikator PP
i. aseton
j. asam sulfat pekat
k. asam asetat glasial
l. larutan FeCl3 10%
m. 1-propanol
n. n-butil alkohol
o. tersier butil alkohol
p. etilen glikol
q. resorsinol
r. o-kresol
s. larutan NaOH 10%
t. reagen Lucas
u. reagen Bordwell-Willman
v. larutan Brom dalam air
w. trifenil karbinol
VI. Prosedur
Kerja
6.1. Kelarutan
a. dimasukkan masing-masing senyawa otanol,
n-butil alkohol, ter-butil alkohol, sikloheksanol, etilen glikol, dan fenol
sebanyak 0,5 mL atau 0,2-0,5 gram.
b. ditambah 2 mL air
c. diamati kelarutannya.
6.2. Reaksi dengan Alkali
a. dimasukkan masing masing 4 tabung reaksi
0,5 mL atau 0,2-0,5 gram n-butil alkohol, sikloheksanol, fenol, dan 2-naftol
b. ditambah 5 mL NaOH 10% tiap tabung
c. dikocok
d. dicatat hasilnya
6.3. Reaksi dengan Natrium
a. dimasukkan ke 3 tabung reaksi
masing-masing 1-propanol, 2-propanol, o-kresnol.
b. ditambahkan sepotong kecil logam natrium
dan catat hasilnya.
c. ditambah indikator fenolftalein dan
dicatat hasilnya.
6.4. Pengujian Lucas
a. dimasukkan 2 ml reagen ke 4 tabung reaksi
b. dimasukkan masing masing 5 tetes sampel
alkohol yang akan diuji (1-butanol, 2-butanol, sikloheksanol, dan ter-butil
alkohol)
c. dicatat suhunya dan amati hasilnya.
6.5. Oksidasi dengan Asam Kromat (Pengujian Bordwell-Wellman)
a. dimasukkan 1 ml aseton masing masing 5
tabung reaksi
b. dimasukkan masing masing 1 tetes sampel
alkohol yang akan diuji (2-butanol, koresterol, dan ter-butil alkohol, dan
trifenil karbinol)
6.6. Reaksi Fenol dengan Brom
a. dimasukkan 0,1 gram fenol ke dalam tabung
reaksi
b. ditambah 3 mL air dan air brom
c. dikocok hingga warna kuning tidak berubah
d. dicatat hasilnya
6.7. Reaksi Fenol dengan Besi (III) Klorida
a. dimasukkan masing masing 3 tabung reaksi 1-2
mL sampel yang akan diuji (fenol, resorsinol, dan 2-propanol)
b. ditambah 5 mL air
c. ditambah masing-masing tabung 1-2 tetes
besi (III) klorida dan diaduk
d. diamati dan catat hasilnya
silakan menonton
video percobaan ini untuk menjawab permasalahan di bawah ini.
video kromatografi lapis tipis
video kromatografi kolom
Setelah
menonton video tersebut, berikut adalah permasalahan yang timbul :
1. Bagaimana prinsip kerja dari kaca yang
berbahan silica jel yang dapat membuat noda terdistribusi?
2. Setelah noda terdistribusi menjadi
beberapa noda pada fase diam, dilakukan penyemprotan suatu larutan dan timbul
warna? Apa prinsip kerja penyemprotan hingga timbul warna? Mohon jelaskan
dengan reaksi kimia yang terjadi jika ada.
3. pada
kromatografi kolom, dilakukan praktikum dengan menggunakan suatu senyawa berkandungan kafein atau kopi. Bagaimana interaksi molekuler nya jika
menggunakan kopi sebagai sampel pada kromatografi kolom? Jelaskan! Kemudian apakah
pelarut yang digunakan sudah merupakan pelarut yang baik?

izin jawab nomor 1
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusperkenalkan saya septia misca dalvanny (005) menjawab soal nomor 1
BalasHapussilika gel berupabutiran butiran padat seperti manikmanik, silika gel ini mengandung gugus hidroksil dipermukaannya yang akan membentuk ikatan hidrogen dengan molekul molekul polar, yang mana silika gel dijadikan fasa diam dalam kromatografi lapis tipis ini gel yang berpori dan bersifat dapat menyerap ini dapat membuat noda terdistribusi.
Saya lisna wiranti nim 001 akan mencoba menjawab soal nomor 2. Perlu dilihat bahwa penyemprotan dilakukan setelah sampel pada plat kaca disinari dengan sinar uv dengan maksud untuk menstabilkan noda dan memudahkan mengukur Rf nya. Prinsip penyemprotan noda dilakukan supaya merusak gugus kromotor simplisia sebagai zat aktif sehingga panjang gelombangnya akan bergeser ke arah yang lebih panjang ini memungkinkan noda akan tampak lebih jelas dan mudah diamati. Sementara untuk reaksi kimia sendiri tidak diketahui secara jelas namun perlakuan diberikannya penyemprotan pereaksi pada noda digunakan untuk menghasilkan turunan senyawa berwarna atau berflouresensi sehingga mudah mengidentifikasi noda pada KLT. Terimakasih.
BalasHapussaya DARA KUMALASARI
BalasHapusdengan NIM : A1C118038
mencoba menjawab permasalahan no 3
Sebagai contoh jika kita ingin memisahkan kafein dan parasetamol pada sampel obat flu dengan fase diam ODS (oktadesil silika) yang nonpolar, maka parasetamol akan lebih dulu keluar dari kolom atau tR lebih kecil daripada kafein. karena kafein sifatnya nonpolar dan lebih terlarut pada fase diam, sedangkan parasetamol bisa terlarut sedikit tapi hanya sebentar saja.
pelarut (eluen) kloroform samo etanol, harga momen dipol dipengaruhi oleh kelektronegatifan unsur-unsur pembentuk suatu senyawa. Bila perbedaan kelektronegatifan besar makasenayawa memiliki momen dipol besar dan bersifat polar. Kelarutan suatu senyawa dalam pelarut pada dasarnya berlandaskan pada prinsip ‘likedissolved like’. Kemiripan kepolaran zat terlarut dengan pelarut yangdigunakan menentukan hasil pelarutan. Senyawa polar akan mudah larutdalam pelarut polar dan sebaliknya. sekian semoga membantu