LAPORAN 3 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 : PEMURNIAN ZAT PADAT


LAPORAN 3 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1
PEMURNIAN ZAT PADAT


DISUSUN OLEH :
NAMA         : RYAN WILLIANTO
NIM             : A1C118019
KELAS       : REGULER A 2018

DOSEN PENGAMPU :
Dr. SYAMSURIZAL, M.Si


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS JAMBI
20119/2020





VIII.   TUJUAN PENGAMATAN
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah :
1.         Mengetahui cara rekristalisasi zat padat
2.         Dapat menentukan pelarut yang tepat untuk rekristalisasi
3.         Dapat melakukan penjernihan larutan yang keruh
4.         Dapat mendapatkan hasil rekristalisasi

IX.    PROSEDUR KERJA
Prosedur kerja dapat dilihat di sini :

X.        DATA PENGAMATAN
A.  REKRISTALISASI
NO.
PERLAKUAN
HASIL PENGAMATAN
1.
Bubuk + Air (250 mL) 2/5 bagian volume
Mencair dan tercampur dengan air
2.
Dimasukan termometer dan disumbat dibagian mulut labu
Suhu 00C
3.
Diulang percobaan
Batas suhu didapatkan 00C
4.
2/5 bagian erlenmeyer diisi air

5.
Dimasukkan termometer 1 cm diatas permukaan
Suhu Awal didpatkan 230C
6.
Dipanaskan
Suhu berubah menjadi 1000C

B.  SUBLIMASI
NO
CAMPURAN 2 SENYAWA
Senyawa Murni
1 : 1
1 : 3
3 : 1
T1
T2
T1
T2
T1
T2
T1
T2

1.
Naftalen
780C
840C


Naftalen + Glukosa

1000C
1480C
1480C
1550C
1300C
1460C
2.
Glukosa
1200C
1400C


Glukosa +
β – Naftol

1300C
1400C
1460C
1500C
1380C
1490C
3.
β – Naftol
1050C
1150C


β – Naftol + Asam Benzoat

880C
920C
900C
1030C
850C
1200C
4.
Asam Benzoat
980C
1400C


Asam Benzoat + Maltosa

1100C
1200C
1000C
1550C
970C
1350C
5.
Maltosa
1050C
1070C


Maltosa + Naftalen

1200C
1220C
1100C
1140C
1130C
1150C


















C.  DEMONSTRASI TITIK LELEH DENGAN MPA (Melting Point Apparatus)
NO
NAMA SENYAWA
T1
T2
1.
Naftalen
850C
1000C
2.
Glukosa
160,720C
1800C
3.
β – Naftol
900C
1020C
4.
Asam Benzoat
1150C
1200C
5.
Maltosa
900C
1020C

Nb :
·          T1 : Suhu Tepat Meleleh
·          T2 : Suhu Meleleh Seluruhnya
·          Bagian B dilakukan secara manual
·          Bagian C dilakukan dengan menggunakan alat Melting Point Apparatus (MPA)

XI.      PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan percobaan kalibrasi termometer dan penentuan titik leleh beberapa zat padat
A.        REKRISTALISASI
Percobaan pertama dilakukan dengan pengkalibrasian termometer. Terometer yang praktikan gunakan untuk percobaan ini adalah termometer alkohol. Hal ini dapat diketahui karena warna isi termometer yang berwarna merah. Pengalibrasian termometer sangatlah penting karena dibutuhkan untuk mengetahui apakah alat tersebut dapat digunakan dengan benar atau tidak.
Tahap awal pada percobaan ini adalah menggunakan termometer ke dalam air es. Es dan  air dicampurkan dan rendam termometer dengan bagian bawah termoeter tidak menyentuh dasar Erlenmeyer. Kemudian dilakukan percobaan ke-2 dengan air mendidih. Termometer dimasukkan ke dalam Erlenmeyer yang dipanaskan dalam keadaan termometer berada 1 cm diatas permukaan air. Hal ini bertujuan mendeteksi sensitivitas termometer dengan posisi mengambang di atas permukaan air.
Kesimpulan dari dilakukannya kalibrasi termometer ini adalah memastikan apakah termometer dapat bekerja dengan baik dalam suhu rendah maupun tinggi. Hasil yang didapat oleh praktikan

B.        SUBLIMASI
Pada penentuan titik leleh ini, dilakukan dengan membandingkan berbagai macam senyawa naftalen, glukosa, β–Naftol (pengganti α-naftol), Asam Benzoat, dan Maltosa. Dengan menggunakan senyawa yang berbeda diharapkan kita dapat berpikir kritis perbedaan diantara senyawa-senyawa tersebut. Berdasarkan literatur bahwa naftalen memiliki titik leleh pada suhu 2180C, titik leleh glukosa pada suhu 1460C, titik leleh β – Naftol 120-1220C, Asam Benzoat pada suhu 122, 30C, dan Maltosa titik lelehnya pada suhu 1020C.
Pada pengujian titik leleh Naftalen dengan manual menggunakan pemanasnya Minyak didapatkan suhu tepat meleleh sebesar 780C dan suhu meleleh seluruhnya 840C, berbanding terbalik dengan literatur yang mengatakan bahwa dapat meleleh dengan kondisi suhu 1460C, namun tidak menutup kemungkinan bahwa karena sifat yang dimiliki oleh Naftalen itu sendiri mudah menguap ataupun terbakar dalam kondisi apapun. Sedangkan dengan yang lainnya mendapatkan nilai yang normal dan tidak jauh berbeda dari suhu literatur. Berbagai faktor dapat terjadi semata bukan karena satu sifat, namun ada berbagai macam pertimbangan kejadian titik leleh itu dapat terjadi.
Pada pengujian β-Naftol dengan menggunakan minyak, didapatkan suhu tepat meleleh berniai 120oC dan senilai 140oC untuk zat yang meleleh seluruhya

XII.     PERTANYAAN PASCA PRAKTIKUM
Setelah melaksanakan praktikum, didapatkan masalah sebagai berikut :
1.         Pada percobaan rekristalisasi, dilakukan pemberian pengotor pada zat murni agar dapat dimurnikan. Kemudian, apa kegunaan praktikan menggunakan karbon aktif dalam praktikum?
2.         Dalam proses melakukan percobaan percobaan sublimasi, dilakukan pelubangan terhadap kertas saring yang akan digunakan. Apa tujuan dilubanginya kertas saring tersebut? Apa dampak jika praktikan tidak melubangi kertas saring?
3.         Pada percobaan rekristalisasi, diambil kira-kira 1 sendok sudip zat murni yang akan dicampurkan dengan pengotor. Setelah dilakukan penyaringan, didapatkan zat murni yang lebih sedikit dari 1 sendok sudip tersebut, mengapa zat murni yang dihasilkan dapat berkurang? Mohon jelaskan alas an saudara/i!

XIII.   KESIMPULAN
Setelah dilakukan praktikum, maka didapatkan hasil yang dapat disimpukan sebagai berikut :
1.                  Rekristalisasi dapat berlangsung dengan baik dengan didapatkannya zat murni asam benzoat sebagai hasil akhir dalam penyaringan.
2.                  Pelarut yang digunakan dalam rekristalisasi adalah aquades karena memiliki sifat dasar sebagai pelarut bagi zat yang umum.
3.                  Penjernihan larutan dapat dilakukan dengan menggunakan teknik penyaringan terhadap larutan yang pekat menggunakan kertas whatman 42 dengan endapan yang akan tersaring.
4.                  Praktikan dapat melakukan prosedur rekristalisasi dengan dihasilkannya Kristal asam benzoat pada larutan yang dingin dan disaring untuk mendapatkan zat. Setelah dilakukan tes titik leleh, didapatkan nilai yang mendekati titik leleh asam benzoat, yaitu 120oC.

XIV.   LAMPIRAN GAMBAR


XV.   DAFTAR PUSTAKA
Gabriel, J F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta : EGC.
Moran dan Shapiro. 2002. Termodinamika Teknik. Jakarta : Erlangga.
Tim Penuntun Kimia Organik 1. 2020. Kimia Organik 1. Jambi : Universitas Jambi.
Oxtoby, dkk. 2001. Kimia Modern. Jakarta : Erlangga.

Komentar

  1. Hai Ryan.... Saya M. Riyo Agung Kurnia NIM A1C118011. Saya ingin bantu jawab pertanyaan no 3. Jadi pada proses rekristalisasi jumlah kristal yang dihasilkan ternyata tidak sama dengan jumlah awalnya. Kemungkinan terbesar jumlahnya tidak sama yaitu saat penyaringan menggunakan corong Buchner. Zat murni sebagian ikut bersama dengan zat pengotor sehingga saat pengkristalan jumlahnya bebeda dengan di awal.

    BalasHapus
  2. Selamat malam, saya Diana Sari ( A1C118096)akan emncoba menjawab pertanyaan no 1. Karbon aktif digunakan untuk penjernihan larutan, yang mana karbon akan mengikat zat-zat pengotor yang ada pada zat yang akan dimurnikan. Tetimakasih, semoga membantu..

    BalasHapus
  3. selamat malam perkenalkan saya DARA KUMALASARI dengan NIM : A1C118038 akan mencoba menjawab no 2 maksud dari diberikan lubang tersebut adalah agar zat yang menyublim (zat yang menjadi gas) bisa keluar . sehingga proses penyubliman bisa terjadi dengan sempurna . jika ditutup zat yang menyublim akan tetap didalam wadah dan akan kembali menjadi zat padat . dan sebagai tanda bahwa proses peyubliman telah terjadi. sekian dan terimakasih.

    BalasHapus

Posting Komentar